Pilihlah Pemimpin
Mengingat sejarah merupakan refleksi kita terhadap apa yang
terjadi di masa lampau untuk mengingat dan melampaui apa yang telah di capai
oleh pendahulu kita ataupun sebagai pengingat bahwa ada batasan-batasan yang
memang telah di sampaikan oleh pendahulu kita. Namun apakah pesan-pesan yang
disampaikan tersebut masih dapat relevan dengan situasi dunia saat ini yang
lebih dinamis? Memantik pertanyaan tersebut maka terdapat satu kalimat oleh
bapak pendiri bangsa ini yang dapat di diskusikan. Soekarno berkata “Ingatlah,
Ingatlah ingat pesanku lagi. Jika engkau mencari pemimpin, carilah pemimpin
yang dibenci, ditakuti atau dicacimaki asing. Karena itulah yang benar. Pemimpin
tersebut akan membelamu diatas kepentingan asing itu. Dan janganlah kamu
memilih pemimpin yang dipuji-puji asing, karena ia akan memperdayaimu.”
Malcom, Mahatma Gandhi, Nelson Mandela hingga Soekarno
merupakan inisiator dalam melawan kolonialisme pada masanya masing-masing. Tentu
pada masa kolonialisme dan diskriminasi tersebut bangsa kulit putih lebih
superior dan menggunakan politik yang licik untuk menguasai sebagian maupun
keseluruhan sumber daya di negeri tersebut, maka kalimat bung karno pun tak ada
cacat celah. Namun di masa sekarang yang menjunjung tinggi equality dan equity
pernyataan tersebut menimbulkan tanda tanya. Peneliti hubungan internasional
yang berpandangan klasik dan non klasik bahkan akan bersihtegang mengungkapkan
pro dan kontra. Di Zaman ini kalimat di puja-puja asing lebih menggambarkan
kepada penghargaan-penghargaan dan predikat-predikat yang didapatkan dan
disandingkan pada seseorang akibat kontribusinya. Belum lama ini Santos sebagai
seorang pemimpin Negara Kolombia mendapat nobel perdamaian akibat reaksinya
menjalin hubungan dengan pemberontak komunis FARC di negaranya. Meskipun telah
mendapatkan penghargaan tersebut, hubungan tersebut sangat ditentang oleh
penduduk Kolombia seakan mereka tidak rela untuk berangkulan dengan kelompok
komunis tersebut. Kalimat Soekarno ini pula yang menjadi tongak kampanye
sebelum pemilihan umum di Indonesia, isu ini di angkat ke permukaan untuk
menolak seorang calon pemimpin pro asing, padahal pernyataan kalimat tersebut
menjadi bias mengingat bahwa intervensi asing bisa saja sudah masuk kedalam
sendi-sendi kebangsaan yang tidak terdeteksi darimana arah datangnya. Oleh karenanya,
neokolonialisme yang dikabarkan sedang terjadi pada negeri ini harus di lihat
dengan sangat objektif dan kritis agar cita-cita bangsa kita tidak di setir
oleh kepentingan asing di dalam negeri.
Komentar
Posting Komentar