Scout Mindset
Scout yang kita kenal di Indonesia adalah gerakan
pramuka yang tujuan akhirnya adalah terbentuknya watak, akhlak dan budi perketi
luhur. Dalam terjemahan yang lain scout adalah seseorang yang mengumpulkan
informasi mengenai pemetaan medan, dan mengindentifikasi potensi hambatan
seakurat mungkin. Korelasi antar keduanya menggambarkan bahwa seorang scout
berada pada posisi netral, yakni tidak menyerang dan tidak pula bertahan yang
menggambarkan sebuah watak down to earth. Julia Galef dalam pemaparannya di
TedX mencoba memberikan gambaran lebih dalam kehidupan kita dengan menempatkan
Scout sebagai mindset.
Memiliki penilaian yang baik dan membuat keputusan
yang baik ternyata sangat bergantung pada pola pikir mana yang kita pegang. Pada
tahun 1894, ditemukan sebuah surat yang telah disobek dalam keranjang sampah
oleh staf dari seorang jenderal Prancis. Tulisan tersebut mengundang perdebetan
karena isinya yang membocorkan rahasia militer prancis, oleh karenanya
dilakukanlah investigasi untuk mengetahui siapa mata-mata yang berada dalam
kesatuan militer prancis. Kecurigaan kebanyakan orang mengarah pada seorang
pejabat yakni Letkol. Alfred Dreyfus. Kecurigaan tersebut dilatarbelakangi oleh
kemiripan tulisan tangan Dreyfus dengan yang ada di dalam surat tersebut, dan
Dreyfus adalah satu-satunya pejabat militer yang beragama Yahudi. Pada saat itu
Prancis dikenal anti Yahudi.
Kemudian kecurigaan di tindak lanjuti dengan
mengeledah rumah Dreyfus, namun mereka tidak menemukan bukti apa pun. Tapi hal
ini tidak mengurangi kecurigaan mereka terhadap Dreyfus, bahkan Dreyfus
dianggap sangat licik dengan tidak hanya berkhianat, dia juga dengan sengaja
menghilangkan semua bukti. Investigasi pun berlanjut dengan memeriksa personal
history Dreyfus dengan mendatangi orang-orang yang pernah berinteraksi
dengannya sekalipun itu adalah guru sekolahnya. Berdasarkan wawancara tersebut
diketahui bahwa Dreyfus ini sangat cerdas, menguasai 4 bahasa, dan memiliki
kapabilitas memori yang sangat tajam. Hal tersebut dianggap sebagai bukti bahwa
Dreyfus punya motif dan skill set yang di butuhkan sebagai seorang intelijen
asing.
Maka Dreyfus diajukan ke pengadilan militer dan
dinyatakan bersalah lalu dilucuti di depan public Prancis. Sejarah Prancis
mencatat ini sebagai “Degradation of Dreyfus”. “Saya bersumpah saya tidak
bersalah, saya masih layak untuk mengabdi pada Negara, hidup Prancis!”
begitulah perkataan Dreyfus saat diarak oleh massa yang menghujat diri-nya. Dreyfus
divonis penjara seumur hidup di Devil’s Island pada tanggal 5 Januari 1895. Ia menjalani
masa penjaranya dengan mengirimi surat ke pemerintah Prancis untuk membuka
kembali kasusnya sehingga diketahui bahwa sebenarnya dia hanyalah korban dari
framing orang-orang kebanyakan.
Dugaan bahwa Dreyfus memang sengaja di jebak
ternyata keliru. Para sejarawan meyakini bahwa Dreyfus tidak dijebak, dia hanya
menjadi korban dari sebuah fenomena yang disebut “Motivated Reasoning”, yaitu
sebuah penalaran yang nampak logis dan rasional, padahal semua itu hanyalah
upaya mencari pembenaran atas suatu ide yang telah diyakini sebelumnya. Other pieces
of information are the enemy, and we want to shoot them down.
Maka kalau orang sudah mengeras sikapnya untuk
menolak atau sangat pro terhadap pendapat tertentu atau seseorang, maka orang
akan cenderung mengalami Motivated Reasoning tersebut. Apa pun dalihnya, apa
pun pendapat orang lain yang dianggap musuh atau tidak satu frekuensi akan
selalu nampak salah di pikiran rasional. Bahkan hal-hal yang sifatnya netral
bisa jadi nampak sebagai bukti dari kebenaran sikap ini.
Jika hati sudah dikuasi oleh cinta atau benci, dan
berketetapan, kita akan cenderung meyakini kebenaran segala pendapat yang
mendukung pendapat kita, dan mengabaikan segala argument yang berlawanan dengan
keyakinan kita. Kita jadi kehilangan akal sehat yang adil dan proporsional
dalam menyikapi segala hal sehingga psikolog menyepakati ini sebagai sebuah
kesesatan pikir yang dinamakan Confirmation Bias.
Apakah kita pernah mengalaminya?
Our judgment is strongly influenced, unconsciously,
by which side we want to win — and this is ubiquitous. This shapes how
we think about our health, our relationships, how we decide how to vote, and
what we consider fair or ethical. What’s most scary to me about motivated
reasoning mindset is just how unconscious it is. We can think we’re being
objective and fair-minded and still wind up ruining the life of an innocent
person - like Dreyfus.
Menariknya, good judgment tidak sama sekali ada
keterkaitan dengan seberapa pintar atau seberapa tinggi IQ kita, ini justru
berkaitan erat dengan bagaimana kita ‘merasa’ (feeling/sense). Lalu bagaimana
agar kita memiliki ‘penilaian yang jernih’?
1.
Jangan terlalu
emosional. Semakin kita emosional, semakin kita termotivasi untuk menyeleksi
kebenaran. Semua argument yang berlawanan akan cenderung diabaikan
2.
Pertahankan rasa
ingin tahu. Rasa ingin tahu ini akan membuat kita lebih ingin mengetahui lebih
mengenai hal-hal yang sebenarnya bisa membuat kita satu frekuensi dengan orang
tersebut.
3.
Milikilah hati
dan pikiran yang terbuka. Empati ini sering sekali tidak muncul dalam keadaan
diri yang beranggapan bahwa kita berseberangan. Menutup diri dari orang atau
agumen yang kita anggap tidak satu frekuensi
4.
Jadilah orang
yang independen. Jangan letakkan harga diri kita berdasarkan omongan orang lain
tentang kita, jangan sampai menganggap segala hal yang dari pihak kita pasti
benar dan segala hal yang dari pihak lawan pasti salah
5.
Milikilah kerendahan
hati (humbleness) bahwa memang kita punya keyakinan tertentu tentang segala hal
tapi dengarkan dengan empatik juga pendapat yang berlawanan.
Laiknya dalam setiap sisi kehidupan kita dapat
berimbang agar tidak sesat pikir seperti pola pikir antara cebong dan kampret. Sebetulnya
kita bisa menjadi satu, tapi ego untuk mengabaikan orang lain yang menyebabkan
kita tidak menjadi satu.
Dikutip dari Julia Galef dalam TedX Conference
Dikutip dari Julia Galef dalam TedX Conference
Komentar
Posting Komentar