Benar dalam perkataan maupun perbuatan
Saya bangga terlahir di negara ini dengan segala pesakitannya, negara ini merupakan negara yang besar dalam pandangan saya, bukan karena letak geografisnya yang membentang luas, bukan juga karena luasnya lautannya, tapi karena kesabaran dalam perjuangan, bersama dalam keberagaman, serta bergerak dalam satu tujuannya. Tentunya beragam generasi telas mengisi suka cita dan duka lara yang terjadi pada negeri ini. Beragam cerita tersaji secara matang dan siap untuk di santap apabila hati dan pikiran ini lapar untuk rasa ingin tau. Mungkin saat ini kita tidak bisa merasakan tajamnya bambu runcing yang mengusir para penjajah, dan mereka pun para pendahulu tak akan pernah pernah tau betapa canggihnya teknologi yang dapat merekayasa kesenangan yang semu. Segala perubahan tersebut tak terlepas dari sebuah regenerasi, yang kita artikan sebagai penerus bangsa.
Siapakah mereka para penerus bangsa? Mereka ialah pemuda, sesosok makhluk hidup yang sedang berkembang dengan semangat yang menggebu-gebu. Ada sebuah pernyataan seperti ini, “Kemajuan sebuah bangsa tergantung kepada sumber daya para pemudanya”, lalu timbul lah sebuah pertanyaan yang mengkritisi pemuda Indonesia di zaman modern ini, dimana pemuda saat ini sudah sangat mencolok dengan capnya sebagai generasi galau, generasi alay, generasi ikut-ikutan dan masih banyak lagi cap jelek yang disinggungkan kepada pemuda. Hal itu disebabkan oleh ketimpangan dan penyimpangan perilaku pemuda pada zaman ini, dimana tak banyak pemuda kala ini yang dapat menyaring dampak globalisasi yang tidak sesuai dengan norma dan karakter bangsa itu sendiri. Saya beryukur karena tuhan menciptakan segala sesuatu secara adil, yang berarti masih ada sebuah cahaya terpendar untuk menerangi dalam kegelapan, merekalah para pemuda yang sampai saat ini berhasil menyaring dampak globalisasi dan melangkahkan kakinya kearah kebaikan yang hakiki. Berkaca pada cita-cita bangsa kita yaitu untuk mencerdaskan bangsa, bukan malah membodohi kehidupan bangsa. Maka untuk mewujudkannya kita pun di tuntut untuk melakukan hal serupa, tidak hanya benar dalam perkataan, tetapi juga benar dalam perbuatan. Lalu dengan apa kita harus berbuat? Pertama, banyak diantara kita yang tidak menyadari pentingnya sebuah arti dari kepekaan, bukan tentang kepekaaan cinta yang akhir-akhir ini marak diperdengungkan, melainkan kepekaan terhadap sekitar, dengan banyaknya berita yang tidak baik dan membuat kita seakan terhipnotis sehingga hati kita dibutakan. Sebelum kita berbuat cobalah untuk melatih kepekaan terhadap apa-apa yang menjadi potensi dan apa-apa yang dapat menjadi ancaman di lingkungan sekitar kita, sehingga kerentanan dalam berbuat salah dapat diminimalisir. Kedua, ‘tong kosong nyaring bunyinya’, bahkan terdengar sampai ke seluruh pelosok negeri ini. Saya yakin kalian yang membaca ini merupakan pemuda dari golongan yang terpelajar, tapi hey tunggu dulu! Apa predikat sebagai kaum pelajar itu membuat kalian menjadi tinggi hati sehingga berkoar-koar, saling beragumentasi dan menyinyir antar pemuda? Kalian laiknya sebuah tong yang diisi namun bagian dasarnya berlubang, percuma! Sudahkah anda menghargai rekan anda yang berada di belahan Indonesia lainnya? Kalian boleh berargumentasi, tapi tolong dahulukan respect ketimbang ideologi masing-masing. Ketiga, sebuah adat jawa selalu mengedepankan tata krama atau sopan santun secara turun temurun, dan saya yakin kalian pun yang bukan berasal dari jawa sudah sejatinya mengenal tata krama tersebut. Bertolak belakang dengan realita saat ini dimana pemudanya sangat riskan dengan tata krama. Bukan karena kita yang golongan tua gila hormat atau kita yang muda minta di hormati, sopan saja tidak cukup kalau kita tidak santun, santun pun tidak akan cukup jika kita tidak sopan. Keempat, semangat yang menggebu-gebu saat ini sudah terlalu kelewat batas, kita terlalu semangat untuk hal-hal percintaan, kita terlalu semangat untuk menjatuhkan orang lain. Saya tidak menyalahkan kalian untuk semangat dalam percintaan kalian, tapi cinta yang salah malah akan menambah jumlah penduduk Negara ini. Semangat merupakan modal utama yang dimiliki negeri ini untuk merebut kemerdekaan, itulah semangat yang sebenarnya yang memang seharusnya membawa kita untuk melejit.
Apakah kita para pemuda saat ini perlu untuk melakukan sumpah kembali? Kobarkanlah kembali semangat pemuda, marilah bersama-sama dengan keberagaman ini kita bangkitkan kembali sang jiwa muda yang terlalu lama tertidur, satu pergerakan nyata dari setiap individu akan berdampak besar pada negeri ini. Mari lakukan benar dalam perkataan serta benar dalam perbuatan!
Siapakah mereka para penerus bangsa? Mereka ialah pemuda, sesosok makhluk hidup yang sedang berkembang dengan semangat yang menggebu-gebu. Ada sebuah pernyataan seperti ini, “Kemajuan sebuah bangsa tergantung kepada sumber daya para pemudanya”, lalu timbul lah sebuah pertanyaan yang mengkritisi pemuda Indonesia di zaman modern ini, dimana pemuda saat ini sudah sangat mencolok dengan capnya sebagai generasi galau, generasi alay, generasi ikut-ikutan dan masih banyak lagi cap jelek yang disinggungkan kepada pemuda. Hal itu disebabkan oleh ketimpangan dan penyimpangan perilaku pemuda pada zaman ini, dimana tak banyak pemuda kala ini yang dapat menyaring dampak globalisasi yang tidak sesuai dengan norma dan karakter bangsa itu sendiri. Saya beryukur karena tuhan menciptakan segala sesuatu secara adil, yang berarti masih ada sebuah cahaya terpendar untuk menerangi dalam kegelapan, merekalah para pemuda yang sampai saat ini berhasil menyaring dampak globalisasi dan melangkahkan kakinya kearah kebaikan yang hakiki. Berkaca pada cita-cita bangsa kita yaitu untuk mencerdaskan bangsa, bukan malah membodohi kehidupan bangsa. Maka untuk mewujudkannya kita pun di tuntut untuk melakukan hal serupa, tidak hanya benar dalam perkataan, tetapi juga benar dalam perbuatan. Lalu dengan apa kita harus berbuat? Pertama, banyak diantara kita yang tidak menyadari pentingnya sebuah arti dari kepekaan, bukan tentang kepekaaan cinta yang akhir-akhir ini marak diperdengungkan, melainkan kepekaan terhadap sekitar, dengan banyaknya berita yang tidak baik dan membuat kita seakan terhipnotis sehingga hati kita dibutakan. Sebelum kita berbuat cobalah untuk melatih kepekaan terhadap apa-apa yang menjadi potensi dan apa-apa yang dapat menjadi ancaman di lingkungan sekitar kita, sehingga kerentanan dalam berbuat salah dapat diminimalisir. Kedua, ‘tong kosong nyaring bunyinya’, bahkan terdengar sampai ke seluruh pelosok negeri ini. Saya yakin kalian yang membaca ini merupakan pemuda dari golongan yang terpelajar, tapi hey tunggu dulu! Apa predikat sebagai kaum pelajar itu membuat kalian menjadi tinggi hati sehingga berkoar-koar, saling beragumentasi dan menyinyir antar pemuda? Kalian laiknya sebuah tong yang diisi namun bagian dasarnya berlubang, percuma! Sudahkah anda menghargai rekan anda yang berada di belahan Indonesia lainnya? Kalian boleh berargumentasi, tapi tolong dahulukan respect ketimbang ideologi masing-masing. Ketiga, sebuah adat jawa selalu mengedepankan tata krama atau sopan santun secara turun temurun, dan saya yakin kalian pun yang bukan berasal dari jawa sudah sejatinya mengenal tata krama tersebut. Bertolak belakang dengan realita saat ini dimana pemudanya sangat riskan dengan tata krama. Bukan karena kita yang golongan tua gila hormat atau kita yang muda minta di hormati, sopan saja tidak cukup kalau kita tidak santun, santun pun tidak akan cukup jika kita tidak sopan. Keempat, semangat yang menggebu-gebu saat ini sudah terlalu kelewat batas, kita terlalu semangat untuk hal-hal percintaan, kita terlalu semangat untuk menjatuhkan orang lain. Saya tidak menyalahkan kalian untuk semangat dalam percintaan kalian, tapi cinta yang salah malah akan menambah jumlah penduduk Negara ini. Semangat merupakan modal utama yang dimiliki negeri ini untuk merebut kemerdekaan, itulah semangat yang sebenarnya yang memang seharusnya membawa kita untuk melejit.
Apakah kita para pemuda saat ini perlu untuk melakukan sumpah kembali? Kobarkanlah kembali semangat pemuda, marilah bersama-sama dengan keberagaman ini kita bangkitkan kembali sang jiwa muda yang terlalu lama tertidur, satu pergerakan nyata dari setiap individu akan berdampak besar pada negeri ini. Mari lakukan benar dalam perkataan serta benar dalam perbuatan!
Komentar
Posting Komentar