Takjub Namun Tertunduk

Saya mengerti pasti ada saja sebagian orang yang menggerutu tentang pembangunan bangsa ini, pun juga saya yang masih fakir ilmu sering kali berhadapan dengan kenyataan saya tidak memiliki apa-apa dan saya bukan siapa-siapa tapi saya punya harapan untuk menjadi bagian dari sejarah bangsa ini, tentunya sejarah yang benar-benar hakiki, bukan sekelabat kasus-kasus yang membuat pusing sepenjuru negeri.
Saya menikmati bagaimana euphorianya orang-orang menikmati kekayaan alam yang ada. Tak bisa di tampik memang bahwa sesungguhnya bangsa ini memiliki jutaan eksotisme yang bisa ditawarkan untuk sekedar bersenda gurau menjernihkan pikiran dan memanjakan mata ataupun piknik ala-ala. Sepanjang perjalan hidup memang saya merasakan bahwa pada kenyataannya ekosistem perpariwisataan negeri ini monoton yang cenderung membosankan, bak seekor kelinci berlarian kecil di taman kecil hingga ia lelah menikmati taman tersebut, lantas ia tersadar untuk meloncat keluar pagar agar dapat menikmati kegembiraan yang lebih. Ya seperti itulah dulu saya hanya sekedar berjalan menikmati senja di kebun raya, kebun teh, panorama alam dan berdegup hati ketika hendak menaiki kuda poni, ah hebat kalau bernostalgia kini.
Namun, wajah itu sudah berubah seperjalanan garis waktu ini. Saya bersyukur kini perpariwisataan mendapat tempat di hati masyarakat, tapi saya pun berharap itu tulus bukan hanya sekedar mengejar hestek yang hendak mencuri perhatian dan popularitas. Menikmati indahnya dunia gabisa di ukur dari love dan like yang kita dapat kok, seriously saya pencemburu yang sangat amat ketika melihat kawan saya berselfie ria saat mereka jalan-jalan, ya bagaimanapun juga saya manusia homo homini lupus, yang takut berpijak dalam kesendirian, dan khawatir dalam kesunyian. Oleh karenanya saya selalu mencoba ketika hendak berpergian mengajak rekan-rekan dan sembari berharap mereka membenci kesibukan yang menyita waktu.

Satu dua tempat dirasa cukup untuk melenggangkan kaki untuk bertamasya. Tapi ada yang hilang dari wajah baru di wisata Indonesia, ketika dalam pencarian saya baru tersadar dimana kearifan lokal yang dahulu  terjunjung tinggi? Kini dengan mudahnya ditemui beragam lokasi dengan bangunan berwarna-warni, lampion sana sini, paying-payung menggantung, gembok-gembok terpaut, ayunan-ayunan mengayun. Saya memang bukan seorang sarjana arsitektur, tapi bagaimanapun saya membenci modern yang hanya mengimitasi kearifan lokal. Saya tidak menginginkan indah yang dipaksakan, bak perempuan yang mendempul hebat wajahnya, tidak menarik. Bagaimanapun juga saya tidak menginginkan kelak anak dan cucu saya hanya bermain di museum dan sekedar membaca cerita tentang ‘dahulu kala’, bukan itu yang saya harapkan. Coba saja bangunan warna warni tersebut diganti dengan revitalisasi rumah-rumah adat layak huni, coba saja lampion-lampion tersebut diganti dengan obor-obor dan lampu minyak yang warna-warni, coba saja paying-payung yang tergantung diganti dengan daun lontar ataupun anyaman daun. Ah banyak keinginan memang bagi saya yang merindukan suasana tempo dulu. Untuk berwisata kini saya takjub namun tertunduk merindukan masa lalu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harapan, dari Alice in Borderland

Scout Mindset

Pilihlah Pemimpin