Takjub Namun Tertunduk
Saya mengerti pasti ada saja sebagian orang yang menggerutu
tentang pembangunan bangsa ini, pun juga saya yang masih fakir ilmu sering kali
berhadapan dengan kenyataan saya tidak memiliki apa-apa dan saya bukan
siapa-siapa tapi saya punya harapan untuk menjadi bagian dari sejarah bangsa
ini, tentunya sejarah yang benar-benar hakiki, bukan sekelabat kasus-kasus yang
membuat pusing sepenjuru negeri.
Namun, wajah itu sudah berubah seperjalanan garis waktu ini.
Saya bersyukur kini perpariwisataan mendapat tempat di hati masyarakat, tapi saya
pun berharap itu tulus bukan hanya sekedar mengejar hestek yang hendak mencuri
perhatian dan popularitas. Menikmati indahnya dunia gabisa di ukur dari love
dan like yang kita dapat kok, seriously saya pencemburu yang sangat amat ketika
melihat kawan saya berselfie ria saat mereka jalan-jalan, ya bagaimanapun juga
saya manusia homo homini lupus, yang takut berpijak dalam kesendirian, dan
khawatir dalam kesunyian. Oleh karenanya saya selalu mencoba ketika hendak
berpergian mengajak rekan-rekan dan sembari berharap mereka membenci kesibukan
yang menyita waktu.
Satu dua tempat dirasa cukup untuk melenggangkan kaki untuk
bertamasya. Tapi ada yang hilang dari wajah baru di wisata Indonesia, ketika
dalam pencarian saya baru tersadar dimana kearifan lokal yang dahulu terjunjung tinggi? Kini dengan mudahnya
ditemui beragam lokasi dengan bangunan berwarna-warni, lampion sana sini, paying-payung
menggantung, gembok-gembok terpaut, ayunan-ayunan mengayun. Saya memang bukan seorang sarjana arsitektur, tapi bagaimanapun
saya membenci modern yang hanya mengimitasi kearifan lokal. Saya tidak
menginginkan indah yang dipaksakan, bak perempuan yang mendempul hebat
wajahnya, tidak menarik. Bagaimanapun juga saya tidak menginginkan kelak anak
dan cucu saya hanya bermain di museum dan sekedar membaca cerita tentang ‘dahulu
kala’, bukan itu yang saya harapkan. Coba saja bangunan warna warni tersebut diganti
dengan revitalisasi rumah-rumah adat layak huni, coba saja lampion-lampion
tersebut diganti dengan obor-obor dan lampu minyak yang warna-warni, coba saja paying-payung
yang tergantung diganti dengan daun lontar ataupun anyaman daun. Ah banyak keinginan memang bagi saya yang merindukan
suasana tempo dulu. Untuk berwisata kini saya takjub namun tertunduk merindukan
masa lalu.

Komentar
Posting Komentar