Angan-mu udah keren kok!

bilikkreatif.co


Tulisan ini dibuat pada saat jam makan siang di dalam ruangan kantor container yang berukuran tidak lebih dari kontrakan 3 juta kosongan yang dulu pernah saya singgahi, bedanya toiletnya diluar. Sambil makan saya merenung teringat lagu Jam Makan Siang milik Hindia, saya putuskan setelah makan siang saya ingin mendengarkannya lagi. begini kira-kira liriknya 'Tentang angan-anganku di jam makan siang, di saat semua orang berjuang, di ladang yang gersang, haus yang mengiang terus merasa kurang', oke saya teguk dulu segelas air mineral yang sudah disiapkan, seret juga ternyata. Lantas mengapa dengan semua angan-angan? apa angan itu adalah anganku anganmu seperti duetnya Raisa dan Isyana? ah ngelindur lu mi, mana mungkin anganmu pernah bersinggungan dengannya. Sebentar, dirasa ini sudah terlalu jauh dalam ranah spiritual romantisme, saya cukupkan karena kisahnya tak ada yang lebih baik dari prosa-prosa pujangga dan khawatir hanya akan menjadi anekdot seperti yang sudah-sudah.

Jadi begini, belakangan kita sibuk dengan viralnya Kerajaan Agung Sejagat ataupun Empire-nya Kang Rangga di Sunda. Diprediksi masih akan banyak lagi yang akan mendeklarasikan kerajaannya dengan angan-angannya, percayalah Indonesia tidak pernah kekurangan kebodohannya keunikannya sejengkal-pun. Emang salah ya kalau mereka punya angan-angan seperti itu? saya kira mereka  hanya mengekspresikan bagaimana seharusnya tatanan negara terbentuk dengan penjelasan yang menurut saya itu goblok  tidak rasional dan cenderung gila hanya untuk pansos.

Tulisan ini dimuat karena kegelisahan saya tentang angan-angan dan arti hidup. Budaya kita hari ini terobsesi untuk mewujudkan harapan-harapan positif yang mustahil diwujudkan: menjadi lebih baik daripada lainnya, menjadi lebih diinginkan, menjadi lebih diperhatikan dan sebagainya. pengarahan pemikiran pada hal-hal positif tentang apa yang lebih baik, apa yang lebih unggul, dan apa yang lebih menarik hanya mengingatkan kita tentang kegagalan dan kekurangan kita lalu menghasilkan perasaan cemas yang tak kunjung henti. Belakangan saya baru tau seorang filsuf Albert Camus pernah berkata bahwa 'Anda tidak akan pernah bahagia jika Anda terus mencari apa yang terkandung di dalam kebahagiaan. Anda tidak akan pernah hidup jika terus mencari arti kehidupan'. Kita dibombardir oleh sosial media yang tidak jarang hanya menampakan kebahagiaan semu, dulu sebelum ada sosial media ketika kita sedang mencemaskan sesuatu itu akan berakhir tidak akan lama, namun sekarang dengan adanya sosial media di gawai maka hampir setiap waktu kita dipersembahkan sesuatu yang mengafirmasi otak kita pada harapan-harapan positif yang mustahil diwujudkan. Pelankan dahulu langkah kita, kita tidak sama dengan mereka, pun mereka tidak sama dengan kita. semakin kuat kita berusaha merasa baik setiap saat, kita akan merasa semakin tidak puas yang menguatkan fakta bahwa kita tidak baik-baik saja. Kita tidak cukup gila dengan angan-angan kita untuk bertindak sedemikian rupa, kita masih bisa berangan-angan dengan mengesampingkan pertanyaan eksistensi kita dalam civilization sekitar. Tidak apa-apa untuk merasa tidak baik saja, memang dunia sekarang sudah lebih getir. Angan-anganmu lebih berharga ketimbang membeli Balenciaga.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harapan, dari Alice in Borderland

Scout Mindset

Pilihlah Pemimpin