Bungur Pucung Sejenak
Perjalanan panjang
untuk mencapai Provinsi Banten ditempuh untuk memenuhi undangan saudara terdekat
dalam wacana akad nikah, tak ingin terlewat khidmatnya prosesi tersebut maka
kami berserta keluarga besar berangkat ke tempat tersebut. Provinsi DKI Jakarta
memang berbatasan langsung dengan provinsi pemekaran dari Jawa Barat tersebut,
bersyukur bahwa kenyataan menempuh perjalanan tersebut sudah dipermudah dengan
akses toll yang dapat dikendarai dengan berpacunya mobil. Penulis pun familiar
dengan perjalanan tersebut sebab jalan tersebut merupakan jalan yang penulis
lewati menuju salah satu kampus di Ibukota Provinsi Banten tersebut.
Namun
lagi-lagi tidak didapati nama desa Bungur Pucung dan bahkan Kecamatan Pasar Pucung
pun tidak masuk kedalam catatan tersebut. Perlu di ingat kembali definitif dari
desa tertinggal ialah memiliki ciri umum angka kemiskinan tinggi, kegiatan
ekonomi terbatas pada dan terfokus pada pengelolaan sumberdaya alam, minimnya
sarana dan prasarana, serta kualitas sumber daya manusia yang rendah. Terbesit dalam
hati sebuah pertanyaan , apakah ada yang terlewat oleh sensus yang dilakukan
pemerintah terhadap desa-desa tertinggal?
Ada kejanggalan ketika
mengetahui bahwa untuk mencapai desa tersebut harus menepuh perjalanan melewati
PTPN Sawit dengan infrastruktur jalan yang begitu memprihatinkan dan tidak
layak. Bagaimana mungkin untuk menargetkan produktifitas tinggi dari kebun
sawit dengan akses jalan yang sedemikian rusaknya, padahal jalan tersebut
merupakan jalan umum satu-satunya tanpa ada alternatif jalur lain. Lalu lalang
masyarakat melewati jalur tersebut, jalur yang dapat menyebabkan indikasi penyakit
ISPA dan ketika hujan turun maka semakin
sulit untuk melewati jalan tersebut karena karakteristik tanah yaitu tanah liat
yang licin apabila tergerus hujan. Tak ayal bagi kami orang baru mengelus dada
melihat kenyataan terdapat saudara sebangsa yang belum mendapat cukup
perhatian.

Selain infrastruktur
jalan yang belum memadai, ada hal lain yang mengintervensi perhatian ini ialah
sulitnya mendapatkan jaringan telepon seluler, dan masih mudahnya menemui
bangunan semi permanen yang hanya ditopang kayu dan diselimuti oleh dipan-dipan
dari bambu. Tidak berhenti di situ saja masalah yang di temui, seperti halnya
biologis manusia pasti mendapati dirinya ingin buang hajat, atau dalam bahasa
keren biologinya adalah ekskresi feses, di masa kritis tersebut ternyata
mayoritas masyarakat tidak memiliki MCK di rumahnya. Alamak, sebagai pendatang
penulis menghawatirkan nenek yang kala itu kebingungan mencari MCK dirumah
warga. Bagaimana dengan pendidikan? Sejauh interaksi yang dilakukan dengan
pemuda sekitar desa ternyata di dapati bahwa mereka harus menempuh jalan jauh
keluar kecamatan dengan jangka waktu tempuh satu setengah jam sampai dengan dua
jam.
Ini buruk, ya mengapa
buruk? Karena kenyataan ini lebih membuat saya terbelalak jika membandingkan
tempat saya mengabdi di Provinsi yang jauh dari Ibukota Indonesia ketimbang
daerah ini yang terbilang masih bersebelahan dengan Ibukota Indonesia. Perjalan
satu hari tanpa lebih mengobservarsi lokasi membuat saya sedih. Sedih memang,
tapi ini tak boleh dibiarkan terlalu larut dalam kesedihan, perlu adanya
kerjasama antara pemerintah setempat dan universitas serta organisasi
masyarakat bersama-sama membangun dan mengabdi di Bungur Pucung sejenak.





Komentar
Posting Komentar