Bungur Pucung Sejenak

Perjalanan panjang untuk mencapai Provinsi Banten ditempuh untuk memenuhi undangan saudara terdekat dalam wacana akad nikah, tak ingin terlewat khidmatnya prosesi tersebut maka kami berserta keluarga besar berangkat ke tempat tersebut. Provinsi DKI Jakarta memang berbatasan langsung dengan provinsi pemekaran dari Jawa Barat tersebut, bersyukur bahwa kenyataan menempuh perjalanan tersebut sudah dipermudah dengan akses toll yang dapat dikendarai dengan berpacunya mobil. Penulis pun familiar dengan perjalanan tersebut sebab jalan tersebut merupakan jalan yang penulis lewati menuju salah satu kampus di Ibukota Provinsi Banten tersebut.

Penulis sempat menyangkal saat salah satu saudara mengatakan bahwa perjalanan menuju sebuah desa yang bernama Bungur Pucung yang terletak pada Kabupaten Pandeglang memiliki akses jalan yang buruk karena beberapa kesempatan survey lapangan keperluan tugas kuliah penulis jalani dengan tanpa hambatan infrastruktur jalan yang buruk. Hipotesa tersebut pun tidak begitu penulis yakini sebab memang penulis hanya meng-generalisir dan data yang didapatkan dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, mengatakan bahwa tercatat sebanyak 158 Desa tertinggal dengan penyebaran di 3 kabupaten yakni Lebak, Pandeglang dan Serang. Lebih mendalam lagi didapatkan data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Pandeglang tahun 2016 diketahui bahwa terdapat 77 desa terbelakang yang terdapat di teritorinya.





Namun lagi-lagi tidak didapati nama desa Bungur Pucung dan bahkan Kecamatan Pasar Pucung pun tidak masuk kedalam catatan tersebut. Perlu di ingat kembali definitif dari desa tertinggal ialah memiliki ciri umum angka kemiskinan tinggi, kegiatan ekonomi terbatas pada dan terfokus pada pengelolaan sumberdaya alam, minimnya sarana dan prasarana, serta kualitas sumber daya manusia yang rendah. Terbesit dalam hati sebuah pertanyaan , apakah ada yang terlewat oleh sensus yang dilakukan pemerintah terhadap desa-desa tertinggal?

Ada kejanggalan ketika mengetahui bahwa untuk mencapai desa tersebut harus menepuh perjalanan melewati PTPN Sawit dengan infrastruktur jalan yang begitu memprihatinkan dan tidak layak. Bagaimana mungkin untuk menargetkan produktifitas tinggi dari kebun sawit dengan akses jalan yang sedemikian rusaknya, padahal jalan tersebut merupakan jalan umum satu-satunya tanpa ada alternatif jalur lain. Lalu lalang masyarakat melewati jalur tersebut, jalur yang dapat menyebabkan indikasi penyakit ISPA dan  ketika hujan turun maka semakin sulit untuk melewati jalan tersebut karena karakteristik tanah yaitu tanah liat yang licin apabila tergerus hujan. Tak ayal bagi kami orang baru mengelus dada melihat kenyataan terdapat saudara sebangsa yang belum mendapat cukup perhatian.
IMG_20170903_163438.jpg
Selain infrastruktur jalan yang belum memadai, ada hal lain yang mengintervensi perhatian ini ialah sulitnya mendapatkan jaringan telepon seluler, dan masih mudahnya menemui bangunan semi permanen yang hanya ditopang kayu dan diselimuti oleh dipan-dipan dari bambu. Tidak berhenti di situ saja masalah yang di temui, seperti halnya biologis manusia pasti mendapati dirinya ingin buang hajat, atau dalam bahasa keren biologinya adalah ekskresi feses, di masa kritis tersebut ternyata mayoritas masyarakat tidak memiliki MCK di rumahnya. Alamak, sebagai pendatang penulis menghawatirkan nenek yang kala itu kebingungan mencari MCK dirumah warga. Bagaimana dengan pendidikan? Sejauh interaksi yang dilakukan dengan pemuda sekitar desa ternyata di dapati bahwa mereka harus menempuh jalan jauh keluar kecamatan dengan jangka waktu tempuh satu setengah jam sampai dengan dua jam.

Ini buruk, ya mengapa buruk? Karena kenyataan ini lebih membuat saya terbelalak jika membandingkan tempat saya mengabdi di Provinsi yang jauh dari Ibukota Indonesia ketimbang daerah ini yang terbilang masih bersebelahan dengan Ibukota Indonesia. Perjalan satu hari tanpa lebih mengobservarsi lokasi membuat saya sedih. Sedih memang, tapi ini tak boleh dibiarkan terlalu larut dalam kesedihan, perlu adanya kerjasama antara pemerintah setempat dan universitas serta organisasi masyarakat bersama-sama membangun dan mengabdi di Bungur Pucung sejenak.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harapan, dari Alice in Borderland

Scout Mindset

Pilihlah Pemimpin