Optimisme dari Faktanya Negeri dan Banten
Sebuah bangsa yang merdeka
terluntang-lantung memijakan kakinya di tanah air sendiri,mengais kewibawaan
yang terlucuti. Merdeka atau mati sebagai slogan usang hanya ditujukan untuk
penjajah yang kasat mata, namun entah bagaimana dengan yang tidak kasat mata.
Ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk melemahkan dan menjajah suatu negeri
di era milenial ;
1. Kaburkan
sejarahnya
2. Hancurkan
bukti sejarah agar tidak bisa dibuktikan kebenarannya
3. Putuskan
hubungan mereka dengan leluhurnya, katakan bahwa leluhurnya itu bodoh dan
primitif
(Juri Lina,
Swedia, 2004)
Fakta ironis bangsa ini pada masa
globalisasi yang memiliki ciri khas kolonialisme baru yang lebih terlihat
beretika dan memihak hak-hak asasi manusia sehingga dengan mudahnya mendapat
tempat di hati generasi sekarang yang telah kehilangan gairah kebangsaan di
sanubarinya. Negara ini mulai kehilangan jati dirinya, kehilangan kemampuannya
sebagai suatu negara adidaya di masa yang telah lampau. Terasa relevan ungkapan
bahwa penulisan sejarah bergantung pada siapa penguasanya. Penafsiran yang
struktural pada generasi penerus bangsa ini tidak bisa dibiarkan terus
berlanjut lebih jauh karena itu adalah penghinaan bagi peradaban luhur nenek
moyang indonesia sebagai zambrud khatulistiwa, mutiara dan serpihan surga yang
ada di dunia. Perlu adanya stimulus agar generasi ini tidak berkiblat pada
kapitalisme lemah lembut ketimbang sejarah hebat leluhurnya.
Sistem pembangunan yang
seharusnya memberikan dampak trickle down effect, tapi realitas yang terjadi
adalah trickle up effect dimana yang miskin mensubsidi yang kaya. Otonomi
daerah disulap menjadi sebuah lembaga pelatihan korupsi, serta lembaga
perwakilan tertinggi di Indonesia mencetak 89% UU yang sarat akan kepentingan
asing. Struktur perekonomian yang mengandalkan pinjaman asing membuat negri ini
tidak berdaya dibuatnya. Peminjaman yang secara harfiah berarti menambah hutang
negara kepada lembaga keuangan dunia menyebabkan cengkraman kapitalis semakin
erat karena sistem keberpihakan yang menguntungkan si peminjam. Apalagi yang
diberikan menteri Sri Mulyani mengenai hutang negara dirasa tidak relevan
karena membandingkan antara negara maju dan negara berkembang. Indonesia saat
ini masih menjadi negara konsumtif ketimbang negara produktif. Sifat
konsumerisme itulah yang membahayakan dan berdampak nyata pada bysander effect
terhadap lingkungan sekitar utamanya lingkup negara. Penduduk indonesia besar
secara kuantitas, namun rendah secara kualitas menjadi sedikit alasan Indonesia
di eksploitasi oleh bangsa asing.
Pendekatan pembangunan Indonesia
terbagi dalam dua metode yaitu sektoral dan regional. Kedua pendekatan
pembangunan tersebut seringkali menemui kebuntuan dan cenderung kontradiktif
satu dengan yang lainnya. Padahal dua pendekatan tersebut diharapkan dapat
menciptakan landasan yang kuat untuk mengarahkan secara mandiri dengan segenap
kekuatannya dalam mencapai tujuan yang di cita-citakan. Pola pembangunan
ekonomi yang dilakukan membuat pendekatan sektoral menjadi dominan, memang
pendekatan tersebut menghasilkan pendapatan per-kapita dan pertumbuhan ekonomi
tinggi. Namun, kemasannya mengandung masalah salah satunya ialah tidak
meratanya distribusi kegiatan dan hasil pembangunan tersebut menghasilkan snow ball effect pada turunannya. Indeks
angka kepemilikan tanah yang mencapai angka 0,8 mengindikasikan bahwa satu
persen penduduk Indonesia memiliki 80% kepemilikan tanah yang bertolak belakang
dengan Undang-Undang pasal 33 tahun 1945 yang mendengungkan kesejahteraan
rakyat.
Kehidupan makin terpuruk di
tengah-tengah kebijakan pemerintah yang tidak memihak. Negeri maritim dan
agraris ini harus bangkit. Menyulut semangat kemerdekaan dapat dimulai dari
Banten. Banten sendiri memiliki permasalahan pelik yang belum terselesaikan,
nyatanya 60-70 persen penduduk miskin merupakan penduduk yang hidup di sektor
pertanian Banten. Keberadaan pertani dan pertaniannya menjadi sentral dan
sangat penting bagi keberlangsungan bangsa dan Negara ini. Lebih lanjut lagi
pada sektor pangan padi sebagai gambaran, penduduk Banten mencapai 9,1 juta
jiwa dengan konsumsi beras rata-rata pertahun mencapai 140 Kg. jika kemampuan
petani tidak mencapai angka tersebut,maka kebutuhan beras tidak terpenuhi dan
berdampak pada perekonomian. Mengutip dari Muhammad Ihsan sebagai staff ahli
Menko Perekonomian bahwa setiap 10 persen kenaikan harga beras akan menaikkan
kemiskinan 1%. Lalu, langkah dilematis ditempuh dengan membanjiri pasar domestic
dengan produk impor. Persoalan tidak berhenti disitu saja karena munculnya
berita impor tersebut secara psikologis bisa menurunkan motivasi petani, karena
setiap kenaikkan harga impor berarti terjadinya penurunan fluktuatif harga terhadap
produk lokal.
Apabila ditelisik pada sejarah
kejayaan Banten di masa lampau yang dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa maka
kita dapat menemukan fakta bahwa negeri ini bisa mandiri tanpa campur tangan
asik dalam urusan internal dimana sang sultan mampu memajukan wilayah
perdagangan internasional, memajukan pendidikan dan kebudayaan. Pembentukan kekuatan
maritime dan agraris yang hebat sehingga masyarakatnya pun menjalani hidup
dengan sejahtera. Kesuksesan itu pula yang menyebabkan imperialis asing menjadi
dengki dan murka sehingga melakukan politik praktis dengan mengadu domba. Berkat
kemakmuran negeri ini tidak ada yang satupun negeri-negeri yang sungkan untuk
menguasainya. Rencana kedepan adalah bagaimana agar mempertahankan dan
memanfaatkan potensi yang ada. Jika perlu munculkan kembali multatuli baru yang
tersohor pada generasi penerus.
Komentar
Posting Komentar